Pernahkah Anda berjalan-jalan tanpa membawa peta?
Sering?
Oh, saya juga sering… Lah, orang Bandung ini masak tidak hapal jalan. Buat apa bawa peta, iya kan?
Eh, ternyata salah juga.
Kemarin saya membuat janji untuk sebuah acara. Niat awalnya sih cari ilmu. Tapi… karena sebuah kesalahpahaman jadilah : main. Main gimana? Jalan-jalan lah….
Lucu juga, kami berdua jalan-jalan (saya bersama seorang akhwat tentunya) dengan kendaraan. Duh, tapi karena keasyikan mengobrol sambil menyetir saya jadi sembarang mengikuti jalan. Jalanannya memang tidak saya kenal, yah biarlah lagipula nyaris tidak ada belokan. Jadi saya mengikuti berdasarkan insting saja.
Eh tapi… keasyikan itu berlanjut. Pada awalnya memang asyik, tapi saya baru menyadari satu hal : bensin tinggal sedikit!! Waduh, kami sempat panik. Di daerah seperti itu sulit menemukan bensin. Sudah berkilo-kilo kami di mobil tapi tak menemukan satu pom bensin pun. waduh. Akhirnya, saya nekat. Yah, biar deh, mumpung jalannya menurun, jadi kopling dikondisikan ke netral ( 0 ) dan hanya bermain dengan rem saja. Gila juga, ternyata mobil malah jadi berkecepatan tinggi (ya jelas lah, kopling netral!).
Akhirnya, setelah jalanan mulai ‘datar’ kembali, saya memasukkan kembali ke kopling 1… kami samar-samar mulai mengenali kondisi sekitar jalan. Sepertinya saya tahu daerah ini, pikir saya. Tak heran, ternyata setelah beberapa saat diketahui, daerah tersebut merupakan daerah dekat perumahan saya dulu. Kami segera mencari pom bensin terdekat… Saat itu sudah ashar, maka kami mencari masjid. Yang terpikirkan pertama kali oleh saya adalah masjid di dekat rumah saya yang dulu. Cukup jauh. Yah, cari yang lain saja deh, pikir saya…
Kami pun berniat untuk pulang kembali dengan rute lain, yang menurut kami aman. Eh, rupanya saya salah belok. Nah, nakalnya, berdasarkan insting saya main belok saja. Loh, kok? tahu-tahu saya sudah berada dekat dengan perumahan saya yang lama. Jadi tadi saya berputar-putar ya! Padahal tadi kan sudah ke arah menjauh dari sana… Wah parah nih.
Akhirnya saya melanjutkan perjalanan. Pikir saya, sudahlah, kami ke masjid dekat perumahan saya yang lama saja. Kami pun shalat ashar bersama. Duh, nikmatnya… teringat masa waktu saya kecil disini, bermain bersama teman. Eh, lucunya. Ketika saya hendak pulang, saya bertemu teman kecil saya… (sekarang anak ITB juga sih) rasanya lucu. Pertanyaan konyol yang sempat saya tanyakan padanya adalah, “Kamu lagi ngapain disini, Gil?”. Gedubraks! Yang wajar untuk bertanya seperti itu adalah dia, bukan saya. Pertanyaan yang aneh, kan rumahnya memang ada disana.
Hehe… Saya pun bertanya jalan pada Agil untuk kembali ke tempat semula. Parah nih, pikir saya. Rupanya saya nyasar tidak tanggung-tanggung. Bagaimana tidak? Saya menghabiskan waktu di mobil sekitar 2 jam. Perjalanan kemudian saya lanjutkan kembali, kali ini sukses! Sebelum pulang, kami sempat mampir dulu sambil menunggu adzan maghrib untuk makan sore. hihihi.
Parah ya…. perjalanan ini bermula dari sebelum adzan ashar dan selesai setelah adzan maghrib berkumandang. Tapi, banyak hikmah yang saya dapat disini… Nanti deh saya cerita lagi lain kali.