Sebenernya pengen mengungkap tentang kedua hal ini, karena tadi pagi dapet brosur cleaning gitu. Yang menarik adalah, kenyataan dibalik kedua cara cleaning ini.

Kebanyakan dari kita pasti sudah sering mendengar mengenai dry cleaning, sudah banyak bukan, berjejer di jalanan fasilitas pencucian dengan pilihan dry cleaning ? pasti. Dari hasil jelajahan saya di wikipedia, ternyata asal muasal si dry cleaning ini dari orang berkebangsaan Prancis. Secara nggak sengaja, pembantunya menumpahkan minyak tanah ke baju si Tuannya. Nggak disangka-sangka, bajunya yang tadi bernoda jadi lebih mudah dibersihkan karena ketumpahan minyak tanah tadi.

Hehehe, aneh juga kan? Cerita ini kemudian berlanjut. Seperti yang kita tahu, minyak tanah itu tidak aman untuk menjadi bahan bantu mencuci, walaupun itu memang memudahkan untuk mencuci. Ini disebabkan karena sifatnya yang mudah terbakar. Karena itu, orang-orang mulai mencari jalan lain, yaitu Stoddard Solvent yang ditemukan oleh William Joseph Stoddard. Larutan Stoddard ini masih berbasis minyak bumi, namun tingkat mudah terbakarnya lebih rendah dari minyak tanah. Tapi kemudian tetap ada lagi inovasi, yaitu larutan klorin. Larutan ini jauh lebih aman dari kedua larutan sebelumnya (karena tak lagi mudah terbakar). Sayangnya, larutan ini dicap karsinogen. Alias, bisa menimbulkan kanker!

Di California larutan berbasis klorin ini, perchloroetyhlene (Perc) dilarang digunakan sejak tahun 2023. Untuk saat ini masih boleh digunakan. Tapi tetap saja, kalo jadi saya sih pasti takut menggunakan teknologi ini. Mengapa? Karena ternyata larutan ini sebenarnya memang bisa bersih sempurna dari bahan yang dicuci, namun di atas 60 derajat Celcius. Sementara penggunaan suhu setinggi itu tidak dimungkinkan untuk pencucian biasa, yang ada nanti bajunya malah rusak. Jadi? Karena itulah, sisa-sisa Perc tadi akan masih menempel pada baju (tidak bisa menguap dan hilang sempurna) dan bila dihirup dalam waktu jangka panjang akan mengakibatkan banyak kerugian deh pokoknya, dari kanker, dst…

Di samping itu, ada teknologi wet cleaning yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Teknologi ini baru muncul tahum 1991, sebagai jawaban untuk teknologi mencuci yang lebih baik dan tidak beracun tentunya. Jadi, ini lebih aman untuk lingkungan. Keuntungan di sisi lain dari teknologi ini adalah biayanya yang relatif murah. Orang-orang yang berkecimpung di teknologi ini memilihnya untuk mencari jalan lain dari dry cleaning yang beracun.

Sayangnya, kadang sebelum proses pencucian itu sendiri, dibutuhkan perlakuan-perlakuan khusus (beberapa kasus tertentu) sebelum benar-benar diwet cleaning dengan zat-zat yang ternyata sama berbahayanya dengan Perc.

-sumber : Wikipedia


3 Tanggapan ke “dry cleaning vs wet cleaning”


  1. ooh gitu..

    baru ngerti saya kalau nyuci juga ada teknologinya.. hehe.

    dasar anak ITB, :p

    • purpurin Berkata

      fufufu, aku tertarik sama cleaning gara-gara baca novel yang sempet ngebahas sedikit tentang cleaning. Buat nyuci baju yang terkena noda-noda yang sulit dibersihin biasanya emang pake bantuan larutan tertentu gin…

  2. Ki no Bakemono Berkata

    hmm…saya jadi inget pelajaran biologi SMA, sepertinya hal2 di atas terkait dengan sifat lipofilik dan hidrofilik dari partikel zat pencuci.
    noda pakaian kan zat-nya berbasis minyak, jadi wajar kalo zat pencucinya berbasis minyak atau senyawa non-polar lainnya.

    dry clean–> cuci kering
    pakaian dicuci tanpa air menggunakan zat yang mudah terbakar dalam suhu tinggi…haduh haduh dasar istilah.


Tinggalkan Balasan